ZIAPMENANG.COM, LAMPUNG — Sebuah kecelakaan maut yang melibatkan satu unit Toyota Avanza dan truk tronton di ruas Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (Terpeka) KM 198+100 telah merenggut nyawa enam orang penumpang, sementara tiga lainnya mengalami luka berat, Minggu (25/10/2026).
Insiden tragis ini bermula saat mobil tersebut melaju di jalan bebas hambatan dalam kondisi pengemudi yang diduga mengalami kelelahan hebat. Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun, menjelaskan bahwa sopir kehilangan kendali hingga kendaraan oleng ke arah kiri dan menabrak bagian belakang truk Fuso yang sedang berhenti di bahu jalan untuk memperbaiki baut roda yang patah.
Kondisi kendaraan yang diduga membawa penumpang melebihi kapasitas standar pabrikan turut menjadi sorotan utama dalam investigasi ini. Merujuk pada data korban yang mencapai sembilan orang di dalam satu mobil pribadi, para ahli keselamatan jalan raya menilai bahwa beban berlebih menjadi faktor krusial yang memperparah dampak kecelakaan.
“Saya enggak melihat jumlahnya, tetapi dari korban yaitu enam orang yang tewas, tiga orang mengalami luka berat, itu berarti sembilan ya? Kalau sembilan itu ditaruh di mana itu orang-orang? Sedangkan kursi tanpa barang saja sama driver itu idealnya tujuh maksimal.”
— Jusri Pulubuhu
Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menekankan bahwa muatan berlebih secara fundamental mengubah dinamika kendaraan. Ketika beban melampaui batas desain, titik pusat gravitasi kendaraan akan bergeser, yang berujung pada penurunan stabilitas saat pengemudi harus melakukan manuver darurat.
Dalam analisis teknisnya, Jusri menjelaskan bahwa penambahan bobot penumpang secara drastis meningkatkan inersia kendaraan. Hal ini membuat mobil jauh lebih sulit dikendalikan saat pengemudi mencoba menghindar atau melakukan pengereman mendadak, terutama pada kecepatan tinggi di jalan tol.
Kapasitas ideal sebuah Toyota Avanza sebenarnya dibatasi maksimal 7 orang, namun insiden ini melibatkan 9 orang di dalam satu kendaraan.

Lebih lanjut, Jusri menambahkan bahwa risiko cedera fatal meningkat tajam bagi penumpang yang tidak mendapatkan perlindungan sistem keselamatan yang memadai akibat kepadatan di dalam kabin. “Terkait dengan jumlah penumpang, bobot kendaraan pun akan naik. Dan itu kaitannya adalah tingkat kesulitan dalam pengendalian pada situasi manuver-manuver gawat darurat itu akan lebih sulit, lebih berbahaya, dan punya paparan atau exposure hilang kendali karena kaitannya adalah inersia dari kecepatan kendaraan,” ungkap Jusri.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa penggunaan bahu jalan tol oleh truk Fuso tersebut memang dilakukan karena kondisi darurat teknis, namun kelalaian pengemudi mobil Avanza yang memacu kendaraan dalam kondisi mengantuk menjadi pemicu utama tabrakan. Saat ini, seluruh korban luka berat masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat, sementara penyelidikan lebih lanjut terus dilakukan oleh pihak berwenang terkait aspek kelalaian manusia dan teknis kendaraan.
- Kecelakaan terjadi di Tol Terpeka KM 198+100 pada Minggu, 25 Oktober 2026.
- Sebanyak 6 orang meninggal dunia dan 3 orang lainnya mengalami luka berat.
- Dugaan penyebab utama adalah pengemudi mengantuk dan kelebihan muatan penumpang.
Kejadian ini kembali mempertegas pentingnya kepatuhan terhadap batas kapasitas muatan kendaraan serta disiplin pengemudi untuk segera beristirahat di rest area jika merasa lelah. Mengingat tingginya fatalitas di jalan bebas hambatan, masyarakat diimbau untuk tidak memaksakan kapasitas angkut kendaraan demi alasan kenyamanan atau efisiensi perjalanan, karena setiap penambahan beban di luar spesifikasi teknis akan mengurangi kemampuan sistem keamanan aktif mobil dalam merespons situasi bahaya di jalan raya.
Kejadian ini menyoroti bahaya nyata mobil bermuatan penuh saat melaju di kecepatan tinggi yang sering kali diabaikan oleh para pengemudi saat menempuh perjalanan jarak jauh.

