ZIAPMENANG.COM, LONDON — Para ilmuwan dan peneliti psikologi dari berbagai universitas dunia kini tengah mengurai misteri di balik fenomena penampakan hantu dan suara gaib yang sering dilaporkan masyarakat melalui pendekatan neurosains dan psikologi kognitif pada Senin (02/11/2026).
Meskipun cerita mengenai sosok tak kasat mata telah menjadi bagian dari sejarah manusia sejak zaman Mesopotamia, para ahli menegaskan bahwa pengalaman yang terasa sangat nyata tersebut sebenarnya merupakan manifestasi dari mekanisme otak manusia dalam memproses realitas, bukan bukti adanya entitas supranatural. Penelitian ini berupaya menjawab mengapa jutaan orang di seluruh dunia, termasuk mereka yang berada di lingkungan modern, masih terus melaporkan pengalaman paranormal yang berdampak besar pada kehidupan subjektif mereka.
Prof. Chris French dari Goldsmiths, University of London, yang mendirikan Anomalistic Psychology Research Unit, menjelaskan bahwa banyak fenomena ini berakar pada kondisi kesadaran yang berubah. Salah satu yang paling menonjol adalah sleep paralysis atau kelumpuhan tidur, sebuah kondisi di mana tubuh terbangun saat otak masih berada dalam fase tidur REM.
“Hal itu bisa sangat mengerikan, namun itu adalah pengalaman halusinatif. Itu tidak nyata,” ujar French mengenai sensasi kehadiran sosok asing yang sering dirasakan penderita saat mengalami kelumpuhan tidur tersebut.
- Kelumpuhan tidur terjadi saat kesadaran pulih namun fungsi motorik tubuh belum aktif sepenuhnya.
- Pareidolia adalah kecenderungan otak untuk memaksakan pola wajah pada objek acak di lingkungan gelap.
- Faktor lingkungan seperti suara infrasonik dapat memicu kecemasan fisik meski tidak terdengar secara sadar.
Selain faktor biologis, psikolog Prof. Christine Simmonds-Moore dari University of West Georgia menyoroti peran pareidolia dan disosiasi. Pareidolia menyebabkan otak manusia, yang berevolusi untuk selalu waspada terhadap ancaman, cenderung menginterpretasikan bayangan atau suara acak sebagai wajah atau kehadiran makhluk hidup. Dalam kondisi stres atau kelelahan, otak sering kali mengaktifkan mode pertahanan diri yang membuat seseorang merasa sedang diawasi oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
“Pengalaman-pengalaman itu nyata secara subjektif dan bisa memiliki dampak yang sangat besar pada kehidupan seseorang,” ungkap Simmonds-Moore terkait bagaimana otak memproses persepsi tersebut.
Dari sisi lingkungan, keberadaan infrasonik atau suara dengan frekuensi di bawah 20 hertz juga menjadi sorotan. Suara yang dihasilkan oleh mesin, sistem pemanas, atau arsitektur bangunan tua ini tidak dapat didengar secara langsung oleh telinga manusia, namun mampu memicu peningkatan kadar hormon kortisol yang berkaitan dengan stres. Kondisi ini membuat seseorang merasa tidak nyaman atau cemas saat berada di lokasi tertentu, yang kemudian sering disalahartikan sebagai kehadiran hantu.
Folkloris Deborah Hyde menambahkan bahwa kecenderungan manusia untuk mempercayai hal-hal mistis juga dipengaruhi oleh bias kognitif yang disebut agency detection. Secara evolusioner, manusia lebih memilih untuk mengasumsikan adanya ancaman yang disengaja daripada mengabaikan potensi bahaya. Hal ini diperkuat oleh bias konfirmasi, di mana seseorang yang sudah memiliki keyakinan akan adanya hantu akan lebih memperhatikan bukti-bukti yang mendukung keyakinannya, terutama karena adanya keinginan untuk percaya pada kehidupan setelah kematian.
Sekitar 7,6 persen dari populasi umum diperkirakan pernah mengalami kelumpuhan tidur setidaknya sekali dalam hidup mereka.
Penelitian mengenai fenomena ini terus berkembang seiring dengan pemahaman yang lebih dalam mengenai sifat psikologis yang disebut transliminality. Individu dengan skor transliminality tinggi cenderung memiliki imajinasi yang kuat, mudah tersentuh oleh seni, dan memiliki ingatan mimpi yang jelas, yang membuat mereka lebih rentan mengalami persepsi lintas-indra atau sinestesia. Bagi kelompok ini, pengalaman yang dianggap paranormal sering kali merupakan hasil dari kompleksitas cara otak mereka dalam mengolah informasi sensorik dan emosional.
Meskipun sains telah menawarkan penjelasan logis, para peneliti mengakui bahwa perdebatan antara realitas mistis dan fungsi kognitif otak akan terus berlanjut. Fokus utama dari studi modern saat ini bukanlah untuk meniadakan pengalaman subjektif individu, melainkan untuk memberikan pemahaman medis yang lebih baik agar masyarakat tidak terjebak dalam ketakutan yang tidak berdasar. Dengan memahami batasan biologis dan cara kerja saraf dalam menafsirkan lingkungan, individu diharapkan dapat merespons pengalaman “aneh” dengan perspektif yang lebih tenang dan rasional.
Pemahaman ilmiah tentang cara kerja otak membantu mengurangi stigma sosial bagi mereka yang mengalami halusinasi auditorik atau visual akibat kondisi medis atau stres ekstrem.
Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang mampu mengonfirmasi keberadaan hantu secara fisik, sehingga para ahli tetap menekankan pentingnya evaluasi kondisi fisik dan mental bagi mereka yang sering mengalami gangguan persepsi tersebut. Edukasi mengenai mekanisme otak, mulai dari efek kelelahan, pola tidur, hingga pengaruh lingkungan, menjadi kunci utama dalam menangani fenomena yang selama ini dianggap sebagai misteri supernatural, Senin (02/11/2026).

