ZIAPMENANG.COM, KAMPUNG BAHARI — Sebanyak 1.800 personel gabungan dari Polda Metro Jaya, Bareskrim Polri, BNN, dan Brimob mengepung kawasan Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dalam sebuah operasi besar-besaran untuk memberantas jaringan peredaran narkoba yang telah lama meresahkan masyarakat, Minggu (01/11/2026).
Dalam operasi yang berlangsung di hari Minggu tersebut, aparat kepolisian menerapkan strategi taktis yang tidak biasa dengan memanfaatkan moda transportasi Kereta Rel Listrik (KRL) untuk menyusup ke jantung wilayah target. Taktik ini dirancang untuk meminimalisir kebocoran informasi dan mencegah para pelaku melarikan diri sebelum petugas tiba di lokasi sasaran. Begitu rangkaian kereta berhenti, petugas segera turun dan melakukan pengepungan secara serentak dari berbagai arah.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso, menjelaskan bahwa kolaborasi lintas instansi ini menjadi kunci dalam menyisir setiap sudut permukiman yang dicurigai sebagai basis transaksi narkotika. “Kita melakukan penggerebekan dari berbagai sisi, ya. Ada dari berbagai arah, ya. Oleh karena itu kita lakukan serempak, kemudian kita berkolaborasi dengan semua pihak, dari BNN, dari Bareskrim, ya, kemudian dari Polda Metro Jaya, Brimob, dan lain sebagainya,” ungkap Bismo.
Operasi pemberantasan narkoba ini berhasil mengamankan 27 orang yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran barang haram tersebut.
Di lapangan, petugas menemukan berbagai barang bukti yang memperkuat dugaan aktivitas ilegal di kawasan tersebut. Selain narkotika jenis sabu dan ganja, polisi juga menyita ribuan butir ekstasi beserta mesin pencetaknya. Tidak hanya itu, aparat turut mengamankan senjata api, senjata tajam, alat isap (bong), serta sejumlah uang tunai yang diduga kuat merupakan hasil dari transaksi penjualan narkoba.
Proses penindakan sempat diwarnai ketegangan saat sejumlah warga melemparkan batu ke arah petugas. Bismo menduga tindakan tersebut merupakan taktik pengalihan perhatian agar para bandar dan pengedar dapat melarikan diri dari kepungan aparat. Meski demikian, kepolisian memastikan bahwa fokus operasi tetap terjaga dan tidak terpengaruh oleh provokasi di lapangan.
- Polisi menggunakan KRL sebagai transportasi taktis untuk mengejutkan para pelaku di Kampung Bahari.
- Sebanyak 27 orang diamankan, termasuk pengguna dan terduga pemilik barang bukti.
- Mesin cetak ekstasi hingga senjata api berhasil disita sebagai bukti tindak kejahatan.
Kapolda Metro Jaya, Komjen Pol Dadang Hartanto, menegaskan bahwa pihaknya telah mengantongi data para pelaku yang berhasil lolos dan memastikan pengejaran akan terus dilakukan. Ia juga menyoroti fenomena di mana para pelaku sering kali menjadikan warga sekitar sebagai tameng untuk menutupi jejak mereka. Menurutnya, masalah di Kampung Bahari bukan sekadar urusan penegakan hukum, melainkan juga persoalan penataan lingkungan sosial.
“Ke depan, saya sudah berbicara dengan Pak Wali supaya pemerintah, dua-duanya melakukan penataan. Ya penataan yang baik. Penataan yang baik, lingkungan sosial ditata, masyarakatnya ditata, dibangun, ketahanan sosialnya terhadap pengaruh narkoba. Itu yang paling penting,” tegas Dadang.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi antara kepolisian dan pemerintah daerah untuk membedakan antara warga yang mencari nafkah secara sah dengan pihak-pihak yang memanfaatkannya untuk bisnis narkoba. Penataan kawasan melalui pembinaan bagi warga lokal, seperti pemulung, dan penertiban rumah liar yang disalahgunakan, menjadi langkah krusial untuk mencegah kawasan tersebut kembali menjadi zona merah.
Kampung Bahari telah berulang kali menjadi target operasi kepolisian karena posisinya yang strategis namun kerap disalahgunakan sebagai pusat peredaran narkoba di Jakarta Utara.
Di sisi lain, operasional transportasi publik sempat terdampak akibat aksi penggerebekan ini. Manager Humas KAI Commuter, Leza Arlan, mengonfirmasi bahwa terdapat tiga perjalanan Commuter Line yang mengalami keterlambatan antara 4 hingga 19 menit. Hal tersebut terjadi karena adanya kerumunan warga di sekitar jalur rel saat proses penggerebekan berlangsung, meskipun rangkaian KRL yang digunakan polisi merupakan Kereta Luar Biasa (KLB) yang tidak mengganggu jadwal reguler.
Saat ini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman intensif terhadap 27 orang yang telah diamankan untuk mengungkap jaringan yang lebih besar. Upaya berkelanjutan melalui pengawasan ketat dan koordinasi dengan stakeholder terkait diharapkan dapat memutus rantai peredaran narkoba di Kampung Bahari secara permanen.
Seluruh proses pemeriksaan terhadap 27 orang yang diamankan dilakukan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku tanpa adanya kekerasan.


