ZIAPMENANG.COM, WASHINGTON DC — Partai Demokrat berhasil merebut kendali Kongres Amerika Serikat setelah memenangkan mayoritas kursi di Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat dalam pemilihan paruh waktu yang digelar pada Selasa, 3 November 2026, sebagai bentuk penolakan publik terhadap kebijakan luar negeri dan lonjakan biaya hidup akibat perang.
Perubahan besar dalam lanskap politik ini menandai kemunduran signifikan bagi Presiden Donald Trump. Oposisi berhasil menguasai kedua kamar legislatif, memberikan mereka kekuatan penuh untuk menghambat sisa masa jabatan presiden dari Partai Republik tersebut.
Wakil Presiden AS JD Vance secara terbuka mengakui bahwa kebijakan konfrontasi militer memegang peran besar dalam kekalahan partainya. Kenaikan harga barang dan lonjakan harga bensin menjadi pukulan telak bagi para pemilih di berbagai negara bagian.
Partai Demokrat merebut kendali penuh Kongres AS dalam pemilu sela tahun ini menyusul ketidakpuasan publik terhadap ekonomi dan konflik militer.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan: “Alasan kita kalah adalah perang.” Pernyataan tersebut disampaikan untuk merespons kekalahan telak kubunya di hadapan para pemilih domestik, Selasa (03/11/2026).
Dampak dari pergeseran kekalahan ini tidak hanya dirasakan di dalam negeri, melainkan merambat luas hingga ke kancah internasional. Sejumlah jurnalis dan koresponden BBC melaporkan bagaimana hasil pemilu ini memengaruhi berbagai kawasan penting di dunia, mulai dari Ukraina dan Timur Tengah hingga hubungan perdagangan dengan China.
Di kawasan Timur Tengah, ketegangan geopolitik tetap tinggi di tengah respons Iran terhadap dinamika politik Washington. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa pergeseran politik di AS tidak akan mengubah permusuhan jangka panjang terhadap negaranya.
Pernyataan tersebut termuat dalam pesan tertulis yang dirilis bertepatan dengan peringatan pendudukan Kedutaan Besar AS di Teheran. Kepala negosiator Iran dalam perundingan dengan AS menilai hasil pemilu sela ini membuktikan penolakan publik terhadap konflik di kawasan tersebut.
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama Mohammad Bagher Ghalibaf menilai hasil pemilu sela ini membuktikan penolakan publik terhadap konflik di Timur Tengah. Ia menyebut para pemilih telah menghukum pemerintahan Trump akibat perang dan dampak biaya hidup yang ditimbulkannya, Rabu (04/11/2026).
Sementara itu, negara-negara Teluk Arab turut merasakan imbas dari ketidakpastian kebijakan luar negeri Washington. Hubungan erat yang selama ini dibina antara kubu Trump dan sejumlah negara kawasan kini menghadapi tantangan baru di tengah kekhawatiran eskalasi keamanan.
Di Asia Timur, China memandang hasil pemilihan ini sebagai peluang strategis untuk meninjau kembali kebijakan perdagangan bilateral. Tarif tinggi yang diberlakukan oleh Washington sebelumnya sempat memicu perang dagang yang merugikan produsen serta konsumen di kedua negara.
Eropa dan Ukraina juga menaruh perhatian besar terhadap kelanjutan dukungan militer dan sanksi ekonomi terhadap Moskow. Kremlin menyatakan harapan agar upaya perdamaian tetap berlanjut, meskipun Kongres yang dikuasai Demokrat berpotensi memperketat pengawasan terhadap kebijakan luar negeri Gedung White.

