ZIAPMENANG.COM, ANTALYA — Para arkeolog maritim berhasil menemukan bangkai kapal tertua di dunia yang diyakini berasal dari Zaman Perunggu Awal dengan estimasi usia mencapai antara 4.400 hingga 4.700 tahun di perairan lepas pantai Pulau Kekova, Turki, yang ditemukan pada kedalaman sekitar 30 meter dan diumumkan ke publik guna mengungkap jaringan perdagangan kuno lintas Mediterania, Minggu (25/10/2026).
Penemuan luar biasa ini sontak menarik perhatian komunitas ilmiah internasional karena posisinya yang melampaui rekor artefak pelayaran tertua sebelumnya. Struktur kayu kapal tersebut memang telah hancur sepenuhnya akibat usia yang sangat senja, namun tim peneliti berhasil mengidentifikasi muatan berupa puluhan wadah keramik atau amfora yang terkubur di dasar laut.
Para arkeolog memastikan usia kapal purba ini setara dengan periode sejarah pembangunan Piramida Agung Giza di Mesir.
Proses identifikasi usia kapal ini dilakukan secara teliti oleh para ahli mengingat ketiadaan komponen kayu yang utuh untuk diuji melalui metode radiokarbon. Sebagai gantinya, tim peneliti menganalisis bentuk dan gaya pembuatan amfora yang memiliki ciri khas dua pegangan serta dasar datar, yang kemudian dicocokkan dengan catatan sejarah dari kawasan Mesir dan Timur Tengah.
Kementerian Kebudayaan Turki menyatakan bahwa artefak berharga yang berhasil dievakuasi dari dasar laut tersebut nantinya akan dipamerkan secara khusus di Museum Arkeologi Bawah Laut Mediterania yang terletak di Antalya dalam beberapa bulan ke depan.
“Bangkai kapal ini bagaikan kapsul waktu di dasar laut yang membawa kita kembali pada realitas kehidupan para pelaut ribuan tahun silam.”
— Prof. Hakan Öniz
Selain wadah keramik, tim penyelam juga mendapati adanya tiga jangkar batu berukuran besar di sekitar lokasi penemuan, yang mengindikasikan bahwa kapal dagang sepanjang kurang lebih 10 meter tersebut sempat berupaya menurunkan sauh sebelum akhirnya karam di perairan yang dikenal rawan akibat arus kencang.
Dalam analisis lanjutan terhadap muatan amfora yang berhasil diangkat, para ilmuwan dibuat terkejut mendapati sisa-sisa residu kental di dalam beberapa wadah keramik yang ditemukan dalam kondisi masih utuh tanpa mengalami kerusakan berarti.
“Saya melihat ke dalamnya dan hampir pingsan. Saya tidak percaya betapa banyak residu yang masih terlihat dan tertinggal di dalam wadah.”
— Dr Karin Sowada
Para peneliti memperkirakan residu tersebut bisa berasal dari minyak zaitun, anggur, ataupun resin pohon, sekaligus membuka peluang bahwa wadah-wadah berukuran besar itu sempat melalui proses penggunaan berulang kali untuk berbagai komoditas dagang sebelum tenggelam.
Keberadaan kapal ini memperkuat bukti empiris bahwa jalur perdagangan maritim antarkawasan yang menghubungkan pesisir timur Laut Mediterania menuju wilayah barat laut Turki maupun Pulau Kreta telah berfungsi secara optimal sejak milenium ketiga sebelum Masehi.

