ZIAPMENANG.COM, BEOGRAD — Pemimpin lama Serbia, Aleksandar Vucic, secara mengejutkan mengakui kekalahan dalam pemilihan umum parlemen yang berlangsung sengit setelah gerakan mahasiswa yang menentang pemerintah berhasil mengamankan dukungan mayoritas, Minggu (25/10/2026).
Kekalahan ini menandai berakhirnya dominasi politik Partai Progresif Serbia (SNS) yang telah memegang kendali kekuasaan selama lebih dari satu dekade. Berdasarkan data sampel awal, koalisi "Daftar Mahasiswa" diprediksi akan menguasai antara 135 hingga 140 kursi di parlemen yang totalnya berjumlah 250 kursi, sementara partai petahana hanya diperkirakan meraih 105 kursi.
Sekitar 2,2 juta suara berhasil dikumpulkan oleh Daftar Mahasiswa, melampaui perolehan koalisi Vucic yang berada di angka 1,72 juta suara.
Vucic menyampaikan pengakuan tersebut di hadapan para pendukungnya di markas besar SNS. Meski hasil resmi masih dalam tahap verifikasi, ia menyatakan kesiapannya untuk menerima keputusan rakyat sebagai bagian dari proses demokrasi yang sehat. "Kami masih belum memiliki hasil akhir, berdasarkan sampel jelas bahwa kami telah kalah dalam pemilihan ini, Daftar Mahasiswa telah menang, mereka akan memiliki antara 135 dan 140 kursi dan kami akan memiliki 105, tidak ada orang lain yang masuk parlemen," ujar Vucic.
Transisi kekuasaan ini dipicu oleh gelombang demonstrasi besar-besaran yang mengguncang Serbia sejak akhir 2024. Kemarahan publik memuncak setelah tragedi runtuhnya kanopi beton di stasiun kereta api Kota Novi Sad yang menewaskan 16 orang. Peristiwa tragis tersebut menjadi simbol kegagalan tata kelola pemerintahan, memicu tuduhan korupsi sistemik, serta praktik kolusi dalam proyek-proyek infrastruktur negara.
- Daftar Mahasiswa meraih 135-140 kursi parlemen.
- Tingkat partisipasi pemilih mencapai 67,6 persen, tertinggi sejak 1992.
- Gerakan mahasiswa mengusung agenda reformasi peradilan dan pemberantasan korupsi.
Gerakan mahasiswa yang awalnya bersifat protes jalanan kemudian bertransformasi menjadi kekuatan politik formal. Mereka mendaftarkan 250 kandidat yang terdiri dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari akademisi, dokter, hingga seniman. Fokus utama mereka adalah memulihkan demokrasi, memperbaiki institusi negara, dan memastikan kebebasan pers yang selama ini dianggap ditekan oleh pemerintahan Vucic.
Tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu kali ini mencatatkan sejarah baru dengan angka mencapai 67,6 persen hingga pukul 19.00 waktu setempat. Tingginya antusiasme warga menunjukkan keinginan kuat untuk perubahan arah kebijakan nasional. Namun, proses pemungutan suara tidak sepenuhnya mulus. Pengamat independen melaporkan adanya dugaan praktik pembelian suara dan intimidasi terhadap pemilih di beberapa wilayah.
"Keputusan rakyat adalah suara tertinggi, dan sebagai seorang demokrat, saya menghormati kehendak yang telah dinyatakan melalui kotak suara."
— Aleksandar Vucic
Duta Besar Uni Eropa untuk Serbia, Andreas von Beckerath, menyatakan keprihatinannya terkait laporan pelanggaran tersebut dan mendesak seluruh pihak untuk tetap menjaga stabilitas. Uni Eropa terus memantau ketat perkembangan ini mengingat Serbia merupakan kandidat anggota blok tersebut yang sangat bergantung pada stabilitas politik domestik untuk melanjutkan aksesi.
Keputusan Vucic untuk mundur dari jabatan presiden pada September 2026 demi mengikuti pemilu parlemen sebagai calon perdana menteri justru berujung pada pergeseran kekuasaan yang tak terduga. Kini, tantangan besar menanti koalisi pemenang dalam menavigasi ekonomi yang lesu dan menjembatani polarisasi masyarakat yang tajam. Pemerintahan baru diharapkan segera menyusun kabinet yang mampu menjawab tuntutan reformasi sistemik yang telah disuarakan oleh para demonstran selama dua tahun terakhir.
Pemilu ini dianggap sebagai referendum atas gaya kepemimpinan sentralistik Vucic yang telah berlangsung selama 12 tahun, sekaligus menjadi ujian bagi masa depan integrasi Serbia ke Uni Eropa.
Di pusat kota Beograd, para pendukung gerakan mahasiswa merayakan hasil pemilu dengan optimisme tinggi. Mereka memandang kemenangan ini sebagai bukti bahwa partisipasi aktif warga sipil mampu menggulingkan struktur kekuasaan yang telah mapan. Bagi banyak pemilih, hasil pemilu ini bukan sekadar pergantian kursi di parlemen, melainkan babak baru bagi Serbia untuk bergerak menuju negara yang lebih transparan dan demokratis.

