ZIAPMENANG.COM, NEW YORK — Ikon gaya hidup global, Martha Stewart, menuai kecaman keras dari publik setelah mengunggah foto dirinya mengenakan kostum bertema tunawisma di akun Instagram pribadinya pada Sabtu (31/10/2026). Dalam unggahan yang memicu gelombang kontroversi tersebut, Stewart tampil dengan pakaian lusuh, riasan wajah yang memberikan kesan kotor, serta membawa papan bertuliskan permohonan bantuan makanan, yang dianggap warganet sebagai bentuk trivialisasi terhadap krisis kemanusiaan di tengah situasi ekonomi yang menantang di Amerika Serikat.
Kritik tajam segera membanjiri kolom komentar tak lama setelah foto tersebut muncul ke publik. Banyak pengikutnya menilai bahwa menjadikan kondisi tunawisma sebagai bahan kostum perayaan adalah tindakan yang sangat tidak peka. Situasi ini diperparah dengan fakta bahwa dalam unggahan yang sama, Stewart menyisipkan promosi produk lilin miliknya yang dijual melalui platform QVC, sehingga memicu persepsi bahwa ia memanfaatkan isu kemiskinan demi kepentingan komersial.
Menanggapi reaksi negatif yang meluas, Stewart awalnya menyatakan bahwa niatnya adalah untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai isu tunawisma yang kian memprihatinkan. Namun, klarifikasi tersebut dianggap tidak memadai oleh para pengkritik. Akhirnya, sang pebisnis lifestyle ini mengakui kekeliruannya secara terbuka melalui pernyataan kedua yang lebih lugas.
“Sangat sulit untuk mengakui ketika Anda benar-benar telah melakukan kesalahan besar. Pernyataan saya sebelumnya belum cukup. Saya tahu banyak orang yang sedang berjuang secara ekonomi. Mengenakan kostum seperti yang saya lakukan adalah hal yang tidak sensitif dan sama sekali tidak lucu.”
— Martha Stewart
Insiden ini menyoroti diskoneksi yang dirasakan masyarakat antara gaya hidup mewah para pesohor dengan realitas perjuangan hidup kelompok marginal. Bagi banyak aktivis sosial, penggunaan estetika kemiskinan sebagai aksesori perayaan Halloween merupakan bentuk penghinaan terhadap martabat manusia yang sedang berjuang mempertahankan kelangsungan hidup mereka di jalanan.
Kontroversi ini mencerminkan sensitivitas publik yang tinggi terhadap isu kesenjangan sosial di tengah krisis perumahan yang sedang melanda berbagai kota besar di Amerika Serikat.
Stewart, yang selama ini dikenal sebagai sosok perfeksionis dalam merancang dekorasi dan kostum untuk perayaan musiman, akhirnya menghapus unggahan tersebut dari media sosialnya. Langkah ini menjadi bagian dari upayanya untuk meredam kemarahan warganet yang terus mendesak agar figur publik lebih berhati-hati dalam menggunakan pengaruh mereka.
- Martha Stewart mengunggah foto kostum bertema tunawisma pada perayaan Halloween.
- Unggahan tersebut memicu kecaman karena dianggap tidak peka terhadap krisis kemanusiaan.
- Stewart telah menghapus foto tersebut dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Dalam refleksi kariernya, Stewart sempat mengungkapkan kecintaannya pada tradisi Halloween yang telah ia jalani selama bertahun-tahun. Ia mengaku selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi para pengikutnya, namun kali ini ia mengakui telah melampaui batasan etika yang seharusnya dijaga oleh seorang tokoh publik.
“Saya sangat sedih karena kostum Halloween saya kemarin, yang sebenarnya ditujukan untuk meningkatkan kesadaran terhadap isu tunawisma yang sangat serius, telah menyinggung orang-orang. Hal itu sama sekali bukan niat saya.”
— Martha Stewart
Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi industri hiburan mengenai pentingnya empati dalam setiap konten kreatif. Di era digital saat ini, setiap tindakan yang diunggah ke ruang publik akan dinilai dengan standar moral yang lebih ketat, terutama ketika menyangkut isu-isu sensitif yang berdampak langsung pada martabat kelompok masyarakat yang rentan, Senin (02/11/2026).

