Friday, November 6, 2026
HomeFinancePeran APBN Topang Ekonomi Q3 2026 Tumbuh 5,47%

Peran APBN Topang Ekonomi Q3 2026 Tumbuh 5,47%

ZIAPMENANG.COM, JAKARTA — Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengumumkan kinerja perekonomian nasional pada triwulan III 2026 yang berhasil tumbuh kuat sebesar 5,47% secara tahunan di Jakarta, didorong oleh terjaganya permintaan domestik, investasi yang menguat, serta belanja pemerintah yang optimal, Kamis (05/10/2026).

Pertumbuhan ekonomi yang solid ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap resilien sebesar 5,04% (yoy). Daya beli masyarakat yang terjaga, peningkatan mobilitas, serta kuatnya permintaan domestik tecermin dari pengeluaran kelompok restoran dan hotel yang tumbuh sebesar 6,59% (yoy), seiring meningkatnya konsumsi makanan jadi di rumah makan dan restoran.

Sementara itu, konsumsi transportasi dan komunikasi tumbuh sebesar 5,83% (yoy), didukung oleh mobilitas masyarakat dan penyelenggaraan berbagai event, serta peningkatan aktivitas pariwisata. Momentum konsumsi juga terlihat dari pertumbuhan penjualan eceran, transaksi uang elektronik, dan penggunaan kartu debit serta kredit.

  • Konsumsi rumah tangga triwulan III 2026 tumbuh resilien sebesar 5,04% didorong daya beli dan mobilitas.
  • Investasi atau PMTB mencatat pertumbuhan kuat sebesar 6,06% didukung keyakinan pelaku usaha.
  • Sektor industri pengolahan menjadi penggerak utama ekonomi dengan pertumbuhan mencapai 5,87%.

Dari sisi kebijakan, dukungan APBN melalui stimulus fiskal, bantuan sosial, perlindungan sosial, serta upaya stabilisasi harga pangan turut berperan dalam menjaga daya beli masyarakat. Dengan inflasi yang tetap terkendali dan kondisi ketenagakerjaan yang terus membaik, konsumsi rumah tangga tetap menjadi pilar utama dalam menopang pertumbuhan ekonomi.

Konsumsi pemerintah tumbuh resilien sebesar 8,95% (yoy), terutama didorong oleh peningkatan Belanja Barang sebesar 39,7% dan Belanja Pegawai sebesar 10,3%. Peningkatan realisasi belanja tersebut mencerminkan komitmen Pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui percepatan dan optimalisasi belanja negara.

“APBN berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat, mendukung aktivitas dunia usaha, dan meredam dampak tekanan eksternal. Pemerintah akan terus mengoptimalkan APBN untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, didukung penguatan koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan.”

— Suahasil Nazara

Selain menopang permintaan domestik, belanja Pemerintah diharapkan memberikan multiplier effect terhadap aktivitas produksi dunia usaha, penciptaan lapangan kerja, dan konsumsi masyarakat, sehingga turut memperkuat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan di berbagai sektor.

Investasi yang dicatat melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto atau PMTB tumbuh kuat sebesar 6,06% (yoy), didukung oleh terjaganya keyakinan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional, stabilitas kondisi domestik, serta komitmen pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Momentum investasi juga tecermin dari meningkatnya aktivitas penanaman modal dan impor barang modal yang mendukung ekspansi kapasitas produksi. Penanaman modal asing pada kuartal III tercatat tumbuh sebesar 27,4% secara tahunan.

Penciptaan lapangan kerja baru tercatat melonjak hingga mencapai penambahan sebanyak 1,4 juta orang dibandingkan periode Agustus 2025.

Dari sisi pemerintah, realisasi belanja modal, pembangunan infrastruktur prioritas, serta investasi melalui BUMN dan Danantara turut menjadi pengungkit bagi investasi swasta. Berdasarkan komponennya, investasi bangunan tumbuh 6,39% (yoy), didukung percepatan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, dan sektor perumahan.

Sementara itu, investasi kendaraan tumbuh kuat sebesar 12,96% (yoy), ditopang kendaraan dari produksi domestik dan impor. Ekspor barang dan jasa riil tumbuh sebesar 4,59% (yoy), terutama ditopang oleh meningkatnya kinerja ekspor komoditas CPO, batu bara, serta produk hilirisasi bernilai tambah seperti nikel, tembaga, dan aluminium. Sedangkan, ekspor jasa tumbuh 1,39% (yoy), sejalan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 3,89%.Peran APBN Topang Ekonomi Q3 2026 Tumbuh 5,47%

Di sisi lain, impor barang dan jasa tumbuh sebesar 7,31% (yoy), dengan impor barang riil meningkat 8,58% (yoy), mencerminkan terjaganya kebutuhan bahan baku, barang modal, dan barang konsumsi untuk mendukung aktivitas produksi, ekspansi industri, serta permintaan domestik.

Dari sisi produksi, sektor industri pengolahan tetap menjadi penggerak utama ekonomi dengan pertumbuhan 5,87% (yoy). Kinerja ini didorong oleh subsektor strategis berbasis hilirisasi, terutama industri makanan dan minuman yang tumbuh 7,09%, ditopang ekspor produk sawit dan permintaan CPO domestik.

Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,10% seiring peningkatan produksi bahan baku biodiesel untuk B50 dan pupuk menjelang musim tanam. Industri logam dasar tumbuh 9,94%, didorong peningkatan ekspor katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium.

Sementara itu, sektor konstruksi tumbuh 6,42% (yoy) didukung pembangunan infrastruktur dan percepatan berbagai program prioritas pemerintah seperti KDMP, perumahan, dan Sekolah Rakyat.

Pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan termoderasi menjadi 0,46% (yoy). Fenomena musim kering yang panjang atau El Nino menyebabkan kontraksi pada kelompok tanaman pangan sebesar 1,58% dan perkebunan sebesar 0,13%.

Sektor pertambangan dan penggalian mampu kembali tumbuh positif 0,91% (yoy) setelah terkontraksi dalam empat triwulan berturut-turut. Kinerja positif tersebut didorong oleh pertambangan bijih logam yang tumbuh 2,96% terkait dengan kembali beroperasinya tambang mineral logam di Papua dan Nusa Tenggara.

Sektor perdagangan tumbuh kuat sebesar 7,14% (yoy), ditopang permintaan domestik seiring terjaganya daya beli masyarakat. Penguatan permintaan terlihat dari volume penjualan mobil penumpang dan sepeda motor yang masing-masing meningkat 25,95% dan 8,92% (yoy).

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi berlangsung merata di seluruh wilayah Indonesia, mencerminkan kuatnya daya tahan ekonomi nasional di tengah dinamika global. Kinerja tertinggi dicatat oleh Bali dan Nusa Tenggara yang tumbuh 6,08% (yoy) berkat meningkatnya aktivitas pariwisata di Bali dan aktivitas pertambangan di Nusa Tenggara.

Sebagai kontributor terbesar perekonomian nasional, Jawa tumbuh 5,84% (yoy) ditopang kuatnya aktivitas manufaktur dan jasa. Sulawesi tumbuh tinggi sebesar 5,68%, didorong oleh ekspansi industri hilirisasi mineral, sementara Sumatera dan Kalimantan masing-masing mencatat pertumbuhan 4,95% dan 3,96% (yoy).

Pertumbuhan ekonomi yang kuat di kuartal III 2026 ini turut diikuti oleh penurunan angka pengangguran sebanyak 77 ribu orang menjadi 7,38 juta pada Agustus 2026, sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka membaik menjadi 4,75%.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments