ZIAPMENANG.COM, TOKYO — Sejumlah pencari hunian di berbagai wilayah perkotaan hingga pedesaan Jepang kini mulai mengabaikan rasa takut terhadap hal-hal mistis dan berbondong-bondong memburu properti berstigma atau yang dikenal sebagai jiko bukken demi mendapatkan harga sewa serta pembelian yang jauh lebih murah di tengah lonjakan biaya hidup, Kamis (29/10/2026).
Fenomena ini mencerminkan pergeseran pragmatis di tengah krisis demografi Jepang, di mana kebutuhan akan hunian terjangkau perlahan mengalahkan ketakutan masyarakat terhadap fenomena supranatural. Rumah-rumah yang pernah menjadi lokasi kematian tragis, bunuh diri, atau pembunuhan sering kali sulit laku di pasar konvensional akibat budaya lokal yang kental dengan kepercayaan pada arwah penasaran.
Bagi sebagian warga yang tidak percaya takhayul, kondisi tersebut justru menjadi peluang emas untuk mendapatkan properti strategis dengan potongan harga yang masif. Pemerintah Jepang sendiri mencatat bahwa jumlah rumah kosong atau akiya telah menembus angka sembilan juta unit, memperparah tantangan sektor properti yang harus berhadapan dengan stigma masyarakat.
Diskon harga untuk rumah yang memiliki riwayat kematian di Jepang bisa mencapai 20 hingga 50 persen dari harga pasar normal.
Salah satu warga yang memanfaatkan tren ini adalah Ryua, seorang penghibur muda yang tinggal di sebuah apartemen studio seluas 25 meter persegi di Setagaya, Tokyo. Ia mengaku telah hidup bersama hantu selama empat tahun terakhir dan memperoleh potongan harga sewa hampir 30 persen dari tarif normal akibat riwayat kelam di unit tersebut.
“Saat saya datang untuk melihat apartemen ini, ada seorang pria berdiri di sana, menatap saya tajam,” kata Ryua.
“Karena agen properti tidak bisa melihatnya, saya sadar dia pasti hantu.”
Berdasarkan pedoman yang diterbitkan pemerintah Jepang pada tahun 2021, agen properti wajib mengungkapkan secara transparan apabila sebuah hunian pernah menjadi tempat kejadian perkara kematian yang tidak wajar. Kewajiban tersebut berlaku selama tiga tahun untuk properti sewaan, sementara untuk properti yang dijual, informasi itu harus disampaikan tanpa batasan waktu kepada setiap calon pembeli.
- Pemerintah Jepang mewajibkan pengungkapan riwayat properti bagi agen real estat.
- Situs pemetaan daring seperti Oshimaland membantu publik melacak lokasi jiko bukken.
- Survei terbaru menunjukkan lebih dari separuh warga Jepang kini bersedia menyewa jiko bukken.
Dinamika pasar ini turut memicu kemunculan platform digital seperti Oshimaland yang diluncurkan pada tahun 2005 untuk memetakan lokasi properti berstigma. Situs tersebut mengandalkan kontribusi pengguna untuk mencatat detail insiden di berbagai wilayah, sehingga masyarakat dapat mengakses informasi secara terbuka sebelum memutuskan untuk melakukan transaksi.
Pendekatan pragmatis serupa juga diambil oleh Diane Tincher, seorang warga asing berusia 79 tahun yang membeli rumah besar dengan tiga kamar tidur di Kagoshima dengan harga setengah dari nilai pasaran normal. Ia tidak mempermasalahkan riwayat kematian seorang lanjut usia di rumah tersebut karena agen properti telah bersikap jujur sejak awal.
“Saya tidak percaya pada hantu, tetapi saya tahu orang Jepang sangat percaya takhayul,” kata Tincher.
“Jika memang ada hantu di rumah ini, saya bersyukur kepadanya setiap hari karena saya bisa tinggal di rumah yang begitu indah dengan harga yang terjangkau.”
Di sisi lain, agen properti Erik Oskamp menjelaskan bahwa tantangan psikologis semacam ini sudah sangat melekat dalam budaya masyarakat Jepang dalam memandang sebuah hunian. Meskipun demikian, seiring dengan kenaikan harga properti dan biaya konstruksi yang terus meroket di kawasan metropolitan, segmen pasar jiko bukken diprediksi akan terus menarik minat investor serta pembeli pragmatis yang mengutamakan fungsi dan efisiensi ekonomi.

