Friday, October 30, 2026
HomeFinanceRupiah Tembus Rp 18 Ribu, Gubernur BI Buka Suara

Rupiah Tembus Rp 18 Ribu, Gubernur BI Buka Suara

ZIAPMENANG.COM, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus mengawal stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 18.137 per dolar AS pada penutupan perdagangan pasar valuta asing, Kamis (29/10/2026). Langkah intervensi ini diambil oleh otoritas moneter guna meredam volatilitas pasar yang dipicu oleh berbagai sentimen global, termasuk ketidakpastian kebijakan suku bunga The Federal Reserve dan dinamika geopolitik yang terus membayangi ekonomi domestik.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa tekanan yang menekan mata uang Garuda saat ini merupakan fenomena yang dipengaruhi oleh banyak variabel eksternal. Namun, ia meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain dalam kelompok ekonomi sepadan atau peer group.

Nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp 18.137 per dolar AS saat penutupan pasar pada Kamis (29/10/2026).

Dalam pertemuan di sela Rapimnas Kadin 2026 di Hotel Borobudur, Destry menekankan bahwa pergerakan nilai tukar saat ini murni merupakan respons pasar terhadap mekanisme penawaran dan permintaan. Ia memastikan bahwa bank sentral tidak akan membiarkan fluktuasi tersebut mengganggu stabilitas makroekonomi yang selama ini telah terjaga.

“Perdagangan rupiah dipengaruhi sangat banyak faktor. Namun jika melihat fundamental ekonomi nasional, kondisi Indonesia sebenarnya relatif baik dibandingkan negara-negara sepadan,”

— Destry Damayanti

Untuk menahan laju depresiasi, Bank Indonesia terus mengoptimalkan instrumen intervensi di pasar spot maupun melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa pergerakan rupiah tetap berada dalam koridor yang sesuai dengan nilai fundamentalnya, sekaligus meminimalisir dampak negatif terhadap biaya produksi di sektor riil.

  • Intervensi dilakukan melalui pasar spot dan DNDF.
  • Fokus utama BI adalah menjaga stabilitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
  • Fundamental ekonomi nasional dinilai masih solid di tengah tekanan global.

Selain faktor kebijakan suku bunga Amerika Serikat, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga energi global turut menjadi beban tambahan bagi neraca perdagangan. Kondisi ini mendorong para investor global untuk mengambil posisi risk-off atau menghindari aset berisiko, yang kemudian memicu penguatan dolar AS secara global. Menghadapi kondisi tersebut, Destry menyatakan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar adalah prioritas mutlak guna memberikan kepastian bagi dunia usaha dalam merencanakan investasi jangka panjang.

“Stabilitas adalah hal utama yang harus kita jaga agar tercipta iklim ekonomi yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan sektor lain dan membuka lapangan kerja,”

— Destry Damayanti

Di sisi lain, para pelaku usaha kini mulai melakukan langkah antisipasi dengan melakukan lindung nilai atau hedging untuk memitigasi risiko kerugian akibat pelemahan kurs. Bank Indonesia sendiri menyatakan siap untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah guna memastikan bauran kebijakan fiskal dan moneter tetap berjalan selaras, sehingga inflasi dapat tetap terkendali meskipun ada tekanan dari sisi nilai tukar.

Stabilitas nilai tukar menjadi instrumen krusial bagi Bank Indonesia untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan memberikan kepastian bagi dunia usaha dalam melakukan perencanaan bisnis jangka panjang.

Ke depan, BI akan terus memantau perkembangan data ekonomi global secara real-time, terutama arah kebijakan moneter The Fed yang menjadi acuan utama pasar. Dengan cadangan devisa yang dipandang masih memadai, otoritas moneter optimistis dapat menjaga kepercayaan pasar dan memastikan bahwa ekonomi nasional tetap berada pada jalur pertumbuhan yang positif, meskipun di tengah tantangan global yang berat.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments