Sunday, November 8, 2026
HomeFinanceAPPI Ungkap Tunggakan Gaji Ratusan Pemain: Sriwijaya FC, PSM Kena

APPI Ungkap Tunggakan Gaji Ratusan Pemain: Sriwijaya FC, PSM Kena

ZIAPMENANG.COM, JAKARTA — Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) secara resmi merilis data terbaru mengenai krisis finansial yang melanda ekosistem sepak bola nasional, di mana sebanyak 298 pemain dari 24 klub profesional masih belum menerima hak gaji serta kompensasi kontrak mereka, sebuah situasi yang memicu desakan reformasi tata kelola keuangan klub jelang bergulirnya Liga Nusantara musim 2026/2027 pada 13 November mendatang, Minggu (08/11/2026).

Persoalan ini melibatkan akumulasi tunggakan yang mencapai angka fantastis, yakni Rp 14,60 miliar dalam mata uang rupiah, belum termasuk kewajiban dalam denominasi dolar Amerika Serikat. Berdasarkan laporan APPI, masalah ini tidak hanya terjadi di kasta bawah, namun juga menyeret klub-klub besar di kasta tertinggi seperti Persija Jakarta dan PSM Makassar. Keterlibatan nama-nama besar ini menjadi tamparan keras bagi upaya transformasi profesionalisme sepak bola Indonesia yang tengah digalakkan.

APPI menegaskan bahwa ribuan pemain saat ini berada dalam posisi rentan karena ketidakpastian pembayaran hak dasar mereka. “Persoalan ini bukan sekadar masalah administratif, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup pesepak bola profesional beserta keluarganya yang menggantungkan nasib pada profesi ini,” ujar perwakilan APPI dalam keterangan resminya.

Terdapat total 298 pemain yang haknya belum terpenuhi dengan nilai tunggakan mencapai Rp 14,60 miliar di berbagai kasta liga.

Di level kompetisi Liga Nusantara sendiri, sebanyak 114 pemain dilaporkan menjadi korban dengan nilai tunggakan mencapai Rp 4,46 miliar. Sriwijaya FC menjadi salah satu klub yang paling disorot karena rekam jejak permasalahan finansial yang terus berulang sejak musim 2023/2024. Manajemen klub tersebut tercatat memiliki puluhan putusan National Dispute Resolution Chamber (NDRC) Indonesia yang hingga saat ini belum dilaksanakan.

Selain Sriwijaya FC, klub lain seperti Kalteng Putra dan Persikabo 1973 juga menghadapi masalah serupa terkait status operasional yang tidak jelas namun tetap memikul beban utang gaji. APPI menekankan bahwa berhentinya aktivitas klub tidak dapat dijadikan alasan untuk menghapus tanggung jawab hukum dalam melunasi hak pemain yang telah tertuang dalam kontrak profesional.

  • Terdapat 24 klub dari berbagai kasta kompetisi yang masih menunggak gaji pemain.
  • Total tunggakan mencapai Rp 14,60 miliar untuk 298 pemain.
  • Sriwijaya FC menjadi sorotan karena masalah tunggakan yang berlanjut sejak musim 2023/2024.

Ketidakmampuan klub dalam memenuhi kewajiban finansial ini dinilai sebagai akibat dari lemahnya sistem pengawasan federasi dan operator liga. Banyak klub yang diduga hanya mengandalkan suntikan dana sponsor yang tidak stabil tanpa memiliki cadangan kas darurat. “Kami mendesak adanya mekanisme verifikasi yang lebih ketat, di mana rekam jejak pembayaran gaji harus menjadi syarat mutlak bagi klub untuk mendapatkan lisensi partisipasi liga,” tegas pihak APPI saat menanggapi lambatnya respons manajemen terhadap putusan hukum.

“Kewajiban kontraktual harus diselesaikan meskipun klub tidak lagi berpartisipasi dalam kompetisi, karena ini adalah hak dasar atlet yang harus dilindungi demi masa depan mereka.”

— Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia

Hingga saat ini, APPI terus melakukan upaya pendampingan hukum bagi para pemain yang terdampak, baik melalui jalur korespondensi maupun melalui badan arbitrase olahraga. Meskipun terdapat beberapa klub seperti Rans Nusantara FC dan Persid Jember yang menunjukkan itikad baik dengan melunasi kewajiban mereka, mayoritas klub lainnya masih terjebak dalam siklus tunggakan yang berkepanjangan. Minimnya efek jera dari sanksi yang ada saat ini membuat banyak pemain terpaksa menempuh jalur hukum yang panjang dan melelahkan.

Pihak asosiasi berharap federasi sepak bola nasional dapat segera mengambil tindakan tegas berupa sanksi administratif berat bagi klub-klub yang mengabaikan hak pemain. Tanpa adanya transparansi keuangan dan tanggung jawab manajerial yang nyata, industri sepak bola Indonesia dikhawatirkan akan terus kehilangan kredibilitasnya di mata para pelaku olahraga dan investor yang ingin terlibat dalam ekosistem liga yang lebih sehat.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments