ZIAPMENANG.COM, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak variatif pada perdagangan Selasa (27/10/2026) di tengah upaya pasar untuk bangkit pasca pelemahan signifikan sebesar 1,22 persen ke level 5.373,09 pada hari sebelumnya, Senin (26/10/2026).
Pelaku pasar saat ini berada dalam posisi wait and see yang dipicu oleh kombinasi sentimen global terkait kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) serta penantian terhadap rilis laporan keuangan emiten perbankan besar di dalam negeri. Ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi beban utama, mengingat inflasi AS yang masih berada di angka 3,7 persen secara tahunan, jauh di atas target bank sentral sebesar 2 persen.
Pasar modal domestik saat ini mengantisipasi keputusan The Fed terkait suku bunga yang diperkirakan bertahan di kisaran 3,75-4,00 persen, sementara IHSG berupaya memulihkan diri dari posisi 5.373,09.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa secara teknikal IHSG sebenarnya sedang membentuk pola pembalikan arah atau rebound. Namun, proses pemulihan ini masih rentan terhadap tekanan koreksi teknikal di tengah volume transaksi yang cenderung melandai.
“Berdasarkan indikator teknikal, sinyal Stochastics K_D menunjukkan arah positif, walaupun sinyal RSI berada di area negatif dan volume transaksi mengalami penurunan,” — M. Nafan Aji Gusta
Nafan memproyeksikan rentang pergerakan indeks hari ini akan berada pada level support di 5.246 hingga 5.111, sementara level resistance dipatok pada 5.455 hingga 5.597. Fokus investor kini tertuju pada rilis laporan keuangan emiten perbankan besar, seperti Bank Mandiri yang dijadwalkan merilis kinerja pada Selasa (27/10/2026), disusul oleh Bank Syariah Indonesia, BRI, BTN, dan Bank Danamon hingga akhir pekan nanti.
Selain kinerja perbankan, pasar juga mencermati isu reformasi pasar modal. Usulan reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh MSCI menjadi perhatian serius, meskipun Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berupaya meningkatkan transparansi perdagangan dan pengawasan terhadap saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi untuk menjaga kepercayaan investor.
Stabilitas pasar modal domestik saat ini sangat bergantung pada keseimbangan antara sentimen suku bunga global dan performa fundamental laba perusahaan perbankan nasional.
Di sisi lain, MNC Sekuritas mencatat bahwa tekanan jual yang terjadi pada awal pekan telah membawa IHSG mencapai area koreksi yang diprediksi sebelumnya. Dalam jangka pendek, indeks dinilai masih berada dalam fase wave (iv) dari wave [v], dengan potensi koreksi lanjut ke rentang 5.181 hingga 5.325. Meski demikian, peluang penguatan tetap terbuka lebar jika indeks mampu menunjukkan konsistensi pemulihan.
“Nafan menilai pelaksanaan reformasi regulasi dan transparansi transaksi yang konsisten dan kredibel penting untuk meredam risiko arus keluar modal serta memulihkan kepercayaan investor jangka panjang,” — M. Nafan Aji Gusta
- IHSG diprediksi bergerak variatif setelah ditutup melemah 1,22 persen pada awal pekan.
- Investor menantikan keputusan suku bunga The Fed serta data kinerja keuangan emiten perbankan besar.
- Analisis teknikal menunjukkan IHSG berada dalam fase konsolidasi dengan potensi rebound jika mampu menembus level resistance.
Sentimen global juga datang dari pasar saham AS, di mana raksasa teknologi seperti Microsoft, Alphabet, dan Amazon dijadwalkan melaporkan kinerja kuartalan mereka. Kinerja ketiga perusahaan tersebut dipandang krusial karena akan memberikan gambaran nyata mengenai prospek pertumbuhan sektor kecerdasan buatan (AI) dan layanan komputasi awan yang kini menjadi motor penggerak ekonomi global. Dengan volatilitas yang masih tinggi, investor disarankan untuk tetap selektif dan mengutamakan saham berfundamental kuat untuk memitigasi risiko sistemik yang mungkin muncul akibat ketidakpastian kebijakan moneter global, Selasa (27/10/2026).

