Monday, November 2, 2026
HomeFinanceLatih AI demi Uang, Apakah Pekerja India Sedang Menggali Kubur?

Latih AI demi Uang, Apakah Pekerja India Sedang Menggali Kubur?

ZIAPMENANG.COM, BENGALURU — Ratusan ribu pekerja di India kini terlibat dalam revolusi kecerdasan buatan (AI) dengan cara merekam aktivitas harian mereka menggunakan kamera yang terpasang di kepala sebagai data pelatihan robotika global, sebuah fenomena yang memicu perdebatan etis mengenai masa depan lapangan kerja mereka sendiri, Senin (02/11/2026).

Mohammed Ashim, seorang tukang pangkas rambut berusia 22 tahun, telah menghabiskan waktu selama empat tahun terakhir mengasah kemampuannya di Bengaluru. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ia mengubah rutinitasnya dengan memasang kamera khusus di kepala untuk merekam setiap gerakan tangan dan jarinya saat memotong rambut klien. Ashim bekerja dengan disiplin tinggi, memastikan area tangan tetap berada dalam bingkai kamera dan pencahayaan tetap optimal selama lima hingga enam jam setiap hari.

“Ini penghasilan yang bagus. Tapi jujur saja, melakukan hal-hal berkaitan dengan sesuatu yang futuristik seperti ini membuat saya jadi bersemangat. Saya tidak pernah membayangkan teknik mencukur saya akan berguna bagi perusahaan teknologi global,” ujar Ashim.

Pekerjaan ini menjadi bagian dari rantai pasokan data yang krusial bagi pengembangan AI fisik, yaitu jenis kecerdasan buatan yang dirancang untuk mengendalikan robot di dunia nyata. Perusahaan seperti Rashdan Technologies dan Humyn Labs mengumpulkan rekaman video tersebut untuk melatih algoritma agar mampu mengenali objek, memahami bahasa, hingga meniru pola perilaku manusia dalam tugas fisik seperti memasak, menyapu, atau merakit komponen elektronik.

Menurut CEO Rashdan Technologies, Shahil Baig, kebutuhan akan data spesifik sangatlah tinggi karena robotika memerlukan sinyal berkualitas tinggi yang melibatkan gerakan anggota tubuh serta penerapan gaya dinamis, seperti perbedaan tekanan saat memegang botol plastik dibandingkan gelas baja.

“Kami pergi ke mana pun tugas itu berada. Kami merekam tangan, bukan wajah. Jika perangkat multi-kamera menangkap lebih banyak bagian tubuh atau lingkungan, kami mengaburkan wajahnya. Tidak ada nama, tidak ada detail kontak, tidak ada yang mengidentifikasi mereka secara pribadi ke dalam data yang akan kami serahkan,” ungkap Shahil Baig.

Perusahaan pengumpul data biasanya memberikan bayaran berkisar antara 5 hingga 10 dolar AS untuk setiap delapan hingga 10 jam durasi kerja yang berhasil direkam.

Latih AI demi Uang, Apakah Pekerja India Sedang Menggali Kubur?

Bagi pekerja lain seperti Mohammed Arman, seorang buruh industri tekstil yang telah berpengalaman selama 10 tahun, keputusan untuk mengenakan kamera adalah murni soal bertahan hidup. Ia merasa tidak ada upaya ekstra yang dikeluarkan karena ia hanya merekam pekerjaan rutinnya sehari-hari di pabrik.

Namun, fenomena ini tidak lepas dari kritik tajam. Para ahli memperingatkan adanya risiko eksploitasi dan ketidakpastian masa depan bagi para pekerja tersebut. Bino Paul, seorang profesor senior di Tata Institute of Social Sciences (TISS), Mumbai, menyoroti bahwa para pekerja mungkin secara tidak sadar sedang membantu menciptakan teknologi yang nantinya akan menggantikan posisi mereka di pasar tenaga kerja.

“Pada saat para pekerja menyadari apa yang telah mereka lakukan, keadaan mungkin sudah kebablasan. AI tidak dapat dipandang hanya sebagai sistem teknis. Kita perlu mengembangkan sistem sosio-teknis di mana etika dijunjung tinggi melalui peran manusia, memastikan bahwa AI memberikan manfaat dan bukan kerugian,” tegas Bino Paul.

  • Pekerja di India merekam aktivitas fisik harian untuk melatih robot AI.
  • Data yang dikumpulkan mencakup gerakan tangan, tekanan fisik, dan keterampilan kerja manual.
  • Terdapat kekhawatiran bahwa otomatisasi berbasis data ini akan mengancam pekerjaan manusia di masa depan.

Hingga saat ini, industri pengumpulan data di India terus tumbuh pesat dengan persaingan yang semakin ketat. Manish Agarwal, pendiri Humyn Labs, menilai bahwa India saat ini masih berperan sebagai pemasok bahan baku, namun ia mendesak agar posisi negara tersebut ditingkatkan dalam rantai nilai teknologi global. Ia berharap para pekerja tidak hanya sekadar merekam video mentah, tetapi juga terlibat dalam alur kerja yang lebih kompleks seperti validasi dan standarisasi data pelatihan berkualitas tinggi.

Di sisi lain, bagi individu seperti Jolly Arifur, seorang guru sains asal Guntakal, pekerjaan ini menjadi alternatif pendapatan tambahan yang fleksibel di tengah kesibukannya mengurus keluarga. Meskipun demikian, tantangan untuk menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan hak-hak pekerja digital tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah di tengah gempuran otomatisasi yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk beradaptasi.Latih AI demi Uang, Apakah Pekerja India Sedang Menggali Kubur?

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments