ZIAPMENANG.COM, BANDUNG — PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb) mencatatkan kinerja keuangan yang impresif dengan membukukan laba bersih sebesar Rp1,1 triliun hingga kuartal III 2026. Pencapaian laba bersih tersebut tumbuh signifikan sebesar 37,3 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di tengah tantangan tekanan biaya dana dan dinamika industri perbankan nasional, Kamis (29/10/2026).
Direktur Utama bank bjb, Ayi Subarna, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari strategi pertumbuhan berkualitas yang diterapkan perseroan. Fokus utama manajemen adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis yang terukur, pemeliharaan kualitas aset yang ketat, serta upaya efisiensi operasional di seluruh lini kerja.
“Konsistensi strategi dan kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja perusahaan,”
— Ayi Subarna
Dalam laporan kinerja keuangan tersebut, Grup bjb mencatatkan total aset konsolidasi mencapai Rp219,7 triliun. Dari sisi intermediasi, total kredit dan pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp142,3 triliun. Khusus untuk penyaluran kredit pada level bank only, perseroan mencatatkan angka Rp112,9 triliun, yang menunjukkan peningkatan sebesar Rp1,8 triliun dibandingkan posisi kuartal sebelumnya.
Segmen kredit konsumer masih menjadi tulang punggung portofolio dengan nilai outstanding mencapai Rp74,4 triliun, atau setara dengan 66 persen dari total kredit bank only. Salah satu pendorong pertumbuhan di segmen digital adalah produk Kredit Guna Bhakti (KGB) Pisan yang mencatat lonjakan outstanding sebesar 216,6 persen dibandingkan periode tahun lalu, mencapai Rp271,4 miliar.
Bank bjb berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 37,3 persen hingga mencapai angka Rp1,1 triliun pada kuartal ketiga tahun 2026.
Di samping segmen konsumer, bank bjb juga mulai mencatatkan pertumbuhan pada sektor produktif. Kredit segmen korporasi tumbuh sebesar 7 persen atau sekitar Rp1 triliun, sementara segmen komersial mencatatkan kenaikan sebesar Rp495 miliar dibandingkan kuartal sebelumnya. Strategi ekspansi selektif ini diterapkan pada sektor-sektor yang memiliki profil risiko yang dipahami dengan baik oleh perseroan.
Dari sisi pendanaan, bank bjb berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) konsolidasi sebesar Rp155,6 triliun. Rasio dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) berada pada level 44,9 persen, dengan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang terjaga di angka 86,8 persen. Perseroan juga terus mengakselerasi layanan digital yang mampu menarik pembukaan rekening baru rata-rata 7.000 hingga 12.000 akun setiap bulannya.
- Laba bersih mencapai Rp1,1 triliun dengan pertumbuhan 37,3 persen secara tahunan.
- Total aset konsolidasi Grup bjb menyentuh angka Rp219,7 triliun per September 2026.
- Beban operasional perusahaan berhasil ditekan sebesar 2 persen melalui langkah efisiensi.
Terkait kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 2,87 persen, sementara rasio Loan at Risk (LAR) berada di posisi 9,92 persen. Guna mengantisipasi risiko portofolio di masa depan, perseroan tetap mengambil langkah konservatif dengan membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebesar Rp692 miliar.
“Perseroan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit, sekaligus memperkuat pendanaan dan meningkatkan pendapatan di luar bunga,”
— Ayi Subarna
Langkah efisiensi yang dijalankan terbukti efektif, di mana perseroan berhasil menekan beban operasional sekitar 2 persen. Hal ini berkontribusi pada pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) yang mencapai lebih dari 5,5 persen secara tahunan. Pendapatan berbasis komisi atau fee-based income turut menyumbang hasil positif dengan catatan sebesar Rp1,7 triliun.
Stabilitas kinerja ini merupakan cerminan dari upaya bank bjb dalam menjaga perannya sebagai motor penggerak ekonomi daerah di tengah fluktuasi suku bunga acuan.
Memasuki kuartal IV 2026, bank bjb berkomitmen untuk melanjutkan strategi pertumbuhan berkualitas. Fokus utama perseroan ke depan mencakup penguatan dana murah, pengendalian biaya dana yang ketat, serta peningkatan kualitas analisis kredit. Selain itu, perusahaan akan terus memperkuat upaya pemulihan kredit bermasalah guna memastikan keberlanjutan kinerja keuangan yang positif hingga akhir tahun.

